KAMUS BASA SUNDA – INGGRIS (A – Aj)

A

1. abah-abah

(goods, chattels, effects, gear, tackel) See also: Parabah

2. abdi

(ar: a slave or bondman to the government; me; aku, saya) Synonym: urang, kuring, simkuring See also: maneh, anjeun, sia, urang

3. abeh, ambeh

(agar, supaya; in order to)

 

4. aben

(adu (bahasa halusnya); to fight) See also: adu

5. aber-aberan

(to stroll, to wander, often to avoid pursuit; bepergian, bermain ke tempat yang jauh) Synonym: abur-aburan

6. Abig-abig

(the upper gable end of a house) being a triangle of which the sloping roof forms two sides, and a line drawn from eaves to caves, the base. The triangular pieces of thatch or matted bambu More…

7. ablag, ngablag

(terbuka lebar (mis:pintu); wide opened) See also: ublag-ablag

8. ablu, ngablu

bermain kesana kemari, pekerjaannya tidak menentu

9. abong

(mentang-mentang; Forsooth, oh dear-) abong sia bogah duit – forsooth now that you have got some money. abong tos tiasa meser mobil – mentang-mentang sudah bisa beli mobil

10. Abong-abong

(said when a man presumes on his position or circumstances) Abong-abong ka nu leutik – presuming upon a mans position to oppress people of humble degree.

11. abot

(berat) bahasa halus untuk beurat See also: beurat

12. abreg, ambreg, ngambreg

(datang bersamaan waktunya, banyak) seabreg-abreg – banyak sekali

13. abret, ngabret, abret-abretan

lari sambil melompat-lompat seperti lari kuda atau anak-anak yang bersuka ria

14. abring, ngabring

(serombongan orang yang berjalan bersama-sama) ngabring ka kondangan – pergi bareng serombongan ke undangan

15. Abrit-abritan

(to skip or skit about, to bound nimbly along)

16. abrug, abrug-abrugan

(tidak mau diam sambil meronta-ronta)

17. abrul

(keluar atau pergi bersama-sama) abrulan – rombongan yang pergi atau datang bersama-sama; abrul-abrulan – berjalan bersama-sama tak tentu arah dan tujuan See also: abring, ngabring

18. abur, diabur

(dibiarkan mencari makan sendiri (binatang); Let him find food (for animal))

19. abur-aburan

(pergi jauh sambil berpindah-pindah tempat; to go a long way and moving anywhere) See also: abur, diabur

20. Aburan

(running wild, neglected, let at large, not taken care of.) Jelema aburan – a reckless fellow – a man who has no permanent home and is skulking from the police authorities

1. acak, ngacak

(tidak teratur, mengacaukan) acak-acakan – kacau balau See also: babalatak

2. acan, can, encan

(belum; not yet, even, at all.) Teu di bere-bere acan – saya belum dikasih apapun – he did not even give me any. teu acan – belum (bahasa halus) See also: atos, tos, parantos

3. Acar

(Persian -Pickles) Acar iwung – pickles made of the sprouts of young bambus

4. acay

(iler) ngacay – ngiler

5. Aceng

(a name of endearment given to children – as much as “My darling”)

6. Aceuk

(elder or eldest sister – a refined expression.; kakak perempuan) See also: ceceu, eceu

7. Achah

(an interjection of derision: there you get it! that’s it!)

8. Aci

(among Peranakan Chinese is elder sister, eldest sister; the juice, the gravy, the essential liquid of meat; the fecula of palm tree or tuberous root, prepared for eating in any way.) Aci More…

9. acleng, ngacleng

(terpelanting, terpental; bouncing) See also: aclog, ngaclog

10. aclog, ngaclog

(lompat pendek, melompat seperti kodok; a hop, a short jump, to hop, to perch as a bird on a branch) See also: acleng, ngacleng

11. Aco

(to talk vauntingly, to brag, to hold ridiculous talk,) Aco bae sia moal aya nu ngandel – what stuff you talk, it is not likely that any one will believe you See also: ngaco

12. acos, ucas-acos

(tidak masuk-masuk ujungnya, misal ujung benang tidak masuk-masuk ke lubang jarum)

13. acreug, acreug-acreugan

(meloncat-loncat ke atas; to jump up and down)

14. acuk

(baju; clothes, apparel, shirt) bahasa halus dari baju Synonym: raksukan

15. Acung

(a variety of Arum, of very offensive smell)

 

1. Adu

(to fight, to squabble) This word is also no doubt of Sanscrit origin. The nearest to be found in Clough are Wada – discourse, discussion, controversy, disputation See also: Agadu

2. Adu biru

(an expression of contempt used towards any one) montong di bawuran adu biru sia – you need not put in any of your jaw to meddle with conversation or matters that do not regard you. For Adu More…

3. Adu kebo

(literally “the fighting of buffaloes” – that part of the thatch which covers the ridge pole of house.) It is formed by tying two ataps to each other, so that their respective ends More…

4. adug, adug-adugan

(meronta-ronta; to stamp and kick about, as horse in the stable, or any animal confined in a fold or cage to be obstreperous) adug lajer, adug songkol – meronta-ronta sekuat tenaga karena More…

5. Aduh

(an interjection of surprise or dismay, oh! is that the way!; kata seru, ungkapan kaget) is that what you are after! as we might say, the devil take it!   Aduh! leutik teuing – oh More…

6. Aduk

(to mix, to mingle, to entangle, to cause confusion, to jumble together) Aduk apu – to mix lime. Kusut amat urut di aduk – how confused it is by being jumbled together.

7. Adukeun

(to set to fight, to put in competition) to set up or connect the different parts of carpentry or machinery. See also: adu

8. aduy

(hampir hancur, sangat lembek)

1. aeh

(kata yg muncul karena rasa heran, kaget) ngaeh – merengek-rengek terus sebelum diberi atau dilaksanakan permintaannya diuahaeh – diterima dengan ramah

2. aeuk, aeuk-aeukan

(menangis dengan suara keras, seperti dilagukan)

1. agag-agagan

(ragu-ragu melakukannya; doubtful) Synonym: asa-asa

2. Agar-agar

(a species of sea-weed; Zostera or Plocaria candida.) It is boiled down into a jelly and so eaten, especially by invalids.

3. Agehan

(to leave for another, not to consume or use up any thing entirely.; minta bagian) Agehan urang lauk na saeutik – leave me a little of the flesh or fish.

4. ageung

(besar, bahasa halus dari kata gede; big, superior, great) Synonym: badag

5. agreng

(besar, bagu, dan teratur)

6. agson, ngangsonan

(menghasut; to incite, to provoke)

7. agul

(bangga; suka memperlihatkan atau menceritakan kepandaian; proud, vain, elated with success)

1. aheng

(aneh, ajaib; bizarre)

1. aing

(saya, bahasa kasar sekali dari kuring; the pronoun I, used by a superior to an inferior) Synonym: kuring, abdi

2. ais

(menggendong; to hold) ais pangampih – famili yang membantu-bantu di rumah tangga

1. ajag

(serigala; wolf)

2. ajeg

(tegak; tidak roboh; tetap pendiriannya; stand up, stable)

3. ajen

(harga, nilai; respect, value) ngajenan – menghormati, menghargai; pangajen – penilaian, penilai (juri)

4. ajle, ajle-ajlean

(meloncat-loncat dengan sebelah kaki; to jump with one leg only)

5. ajleng, ngajleng

(loncat, meloncat; to jump) See also: aclog, ngaclog, acleng, ngacleng

6. ajrag, ajrag-ajragan

(melonjak-lonjak karena kegirangan; bouncing for joy)

7. ajret, ajret-ajretan

(lari dan melompat seperti anak kambing; jumping along, skipping off – like a hare or rabbit) See also: ajleg, ajleg-ajlegan

8. ajrih

(segan, malu; shy, bashful)

9. ajrug, ngajrug

(meloncat lurus ke atas)

10. ajul, ngajul

(menjolok, mengambil buah-buahan dengan galah; to take fruits with pole)

11. ajur

(hancur lebur; broken, wrecked)

 

 

Rahasia Hilangnya Kampung Sinjang Moyang di Situ Gede, Tasikmalaya

Rahasia Hilangnya Kampung Sinjang Moyang di Situ Gede, Tasikmalaya


Telaga Situ Gede Tasikmalaya ternyata banyak menyimpan rahasia tersembunyi. Salah satunya soal keberadaan Kampung atau Lembur Sinjang Moyang yang sampai sekarang tidak tahu dimana tempatnya. Mungkin para karuhun disana sudah menyembunyikannnya rapat-rapat.

Mengapa? Karena di Situ Gede ini dulunya merupakan kampung penuh aib dan Lembur Sinjang Moyang inipun dulunya itu tempat persembunyian para koruptor di zaman kerajaan bahkan dijadikan tempat menyimpan hasil kejahatannya.

 

Sekilas tentang Situ Gede

Situ Gede adalah objek wisata alam yang cukup memikat di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Danau ini memiliki luas 47 Ha dengan kedalaman air antara 1,5 meter sampai dengan 6 meter. Persisnya terletak di Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.

Salah satu daya tarik Situ Gede adalah adanya sebuah pulau yang terdapat ditengah-tengah danau. Di Pulau tersebut terdapat Makam EyangPrabudilaya, seorang tokoh penguasa pada masa silam yang mitosnya telah menjadi Legenda bagi Masyarakat Sunda dan Makam Eyang Prabudilaya hingga kini masih dikeramatkan oleh masyarakat sekitar danau.

Maka dari itu selain sebagai objek wiasata alam, Situ Gede juga bisa dijadikan tujuan wisata religi sekaligus wisata sejarah. Para pelancong dapat menikmati teduhnya hutan dengan berbagai flora dan fauna yang ada, namun siapa pun tidak diperbolehkan melakukan aktivitas perburuan.

Lembur Sinjang Moyang

Di balik keindahan Situ Gede, ternyata ada sebuah kisah yang tidak pernah terungkap, yakni tentang sebuah kampung yang hilang. Kampung ini pada masa silam diberi nama Lembur Sinjang Moyang yang letaknya berada di kawasan Situ Gede saat ini. Hanya, dimanakah persisnya, itu pula yang menjadi rahasia secara turun temurun.

Kerahasiaan Lembur Sinjang Moyang berkaitan erat dengan cerita pata koruptor di zaman kerajaan. Melalui kisah tersembunyi ini, maka dapat diketahui bila keberadaan koruptor ternyata sudah ada sejak zaman dahulu, khususnya di zaman kerajaan Sunda. Dan kala itu, mereka bersembunyi di Situ Gede, Tasikmalaya.

Riwayat Situ Gede sendiri memang tidak banyak diketahui. Sebab memang tidak ada catatan resmi yang bisa dijadikan pegangan. Yang ada adalah cerita dari mulut ke mulut, dan itu pun dari kalangan terbatas. Apalagi menyangkut kisah hilangnya Lembur Sinjang Moyang.

Soal cerita tersebut, sebenarnya bukan karena banyak yang tidak tahu. Namun memang kisahnya sendiri sudah lama dipendam oleh para leluhur. Jadi sengaja disembunyikan supaya tidak ada yang tahu. Mengapa harus disembunyikan? Sebab kisah ditempat ini tidak baik untuk para generasi penerus.

Situ Gede mulai ada sejak tahun 1530, setelah salah satu gunung di kawasan Tasikmalaya meletus. Nama gunung tersebut adalah Gunung Pancawayana. Soal dimana letak gunung ini sendiri menjadi misteri hingga sekarang. Namun disebut-sebut gunung ini masih ada, hanya sejak lama masyarakat menyebutnya dengan nama lain. Sehingga keberadaan Gunung Pancawanaya ini tidak jelas lagi.

Setelah Gunung Pancawanaya meletus, dari dalam tanah keluarlah air dalam jumlah besar. Lama-lama membentuk telaga yang kini disebut Situ Gede.

Sebelum adanya Situ Gede, persisnya di kawasan Situ Gede ini terdapat sebuah Kampung Kuno. Disebut kampung kuno karena ia sudah berdiri sejak zaman Kerajaan Tarumanegara dan Kampung inilah yang disebut Lembur Sinjang Moyang. [1]

***

Menurut penulusuran cerita para leluhur, adanya nama Sinjang Moyang setelah ada kejadian besar, yakni peristiwa tahun 1501 Masehi yang mana ketika itu, tepatnya kala subuh hari datanglah dalam jumlah besar pasukan Kerajaan Galuh yang dibantu kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Garut, Tasikmlaya dan Ciamis. Pasukan ini membantai seisi kampung , kecuali kaum hawa dan anak-anak. Mengapa warga Sinjang Moyang dihabisi dan dimusuhi oleh banyak kerajaan ketika itu? [2]

Lembur Sinjang Moyang dari dulu sudah dicurigai dan sering dipakai sebagai tempat bersembunyinya para koruptor. Setiap pembesar kerajaan yang menilep kekayaan kerajaan, larinya pasti ke Lembur Sinjang Moyang ini. Sehingga tidak heran bila prajurit telik sandi kerajaan-kerajaan ietika itu sudah mengawasi keberadaan para koruptor di kampung ini.

Lantas mengapa penduduk Sinjang Moyang juga turut dihabisi? Sebab mereka membantu menyembunyikan para koruptor dan sekaligus mendapat bagian dari hasil kejahatan mereka. Harta-harta kerajaan disembunyikan oleh para koruptor ini antara lain emas, intan dan berlian. Hanya saja, entah bagaimana ceritanya, sehingga kampung Sinjang Moyang ini menjadi tempat pelarian para koruptor tersebut.

Kabarnya, orang Kerajaan Sunda Galuh* yang sembunyi di tempat itu ada yang dari Kerajaan Kendan dan seterusnya sampai ke zaman Padjadjaran. Sinjang Moyang sendiri artinya penutup leluhur. Sehingga oleh leluhur penerus mereka, kisah kampung ini menjadi semacam aib. Sehingga diwanti-wanti kisahnya agar tidak menyebar dan menjadi kisah turun temurun. Tak heran bila cerita tentang Situ Gede ini pun menjadi hilang, karena memang sengaja di tutup-tutupi. [2]

*Kerajaan Sunda Galuh adalah suatu kerajaan yang merupakan penyatuan 2 (dua) kerajaan besar di Tanah Sunda yang saling terkait erat, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kedua Kerajaan tersebut merupakan pecahan dari Kerajaan Tarumanagara. Berdasarkan peninggalan sejarah seperti prasasti dan naskah kuno, Ibu Kota Kerajaan Sunda berada di daerah yang sekarang menjadi Kota Bogor, sedangkan Ibu Kota Kerajaan Galuh adalah di Kota Kawali, yang sekarang Kawali itu ada di daerah Kabupaten Ciamis.

Referensi : Tabloid POSMO
[1] Edisi 627, Tahun XI , 24 Mei 2011, hal 27;
[2] Edisi 628, Tahun XI, 1 Juni 2011, hal.27

Juga di blogg-

http://sep2sip.blogspot.com/2011/06/rahasia-hilangnya-kampung-sinjang.html

KOTA BANJAR

Kota Banjar
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Untuk Kabupaten yang bernama-sama, lihat pula Kabupaten Banjar. Untuk kegunaan lain dari Banjar, lihat Banjar (disambiguasi).
Kota Banjar

Lambang Kota Banjar
Moto: Somahna Bagja Di Buana
Julukan: Kota Serigala Gila

Peta lokasi Kota Banjar
Koordinat: 07° 19″ – 07° 26″ Lintang Selatan – 108°26″ – 108°40″ Bujur Timur
Provinsi Jawa Barat
Dasar hukum UU No. 27/2002
Tanggal 1 Desember 2002
Pemerintahan
– Walikota Dr. H. Herman Sutrisno MM (2004-sekarang)
– DAU Rp. 317.122.023.000.-(2013)[1]
Luas 131,97 km²
Populasi
– Total 188.234 jiwa
– Kepadatan 1.426 jiwa/km²
Demografi
– Kode area telepon 0265
Pembagian administratif
– Kecamatan 4
– Kelurahan -
– Situs web http://www.banjar-jabar.go.id
Kota Banjar, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota Banjar berada di perbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, yakni dengan Kabupaten Cilacap. Banjar merupakan menjadi pintu gerbang utama jalur lintas selatan Jawa Barat. Untuk membedakannya dengan Banjarnegara yang berada di Jawa Tengah, kota ini sering disebut juga Banjar Patroman (dari nama asal “Banjar Pataruman”).
Luas Wilayah Kota Banjar sebesar 13.197,23 Ha, terletak di antara 07°19′ – 07°26′ Lintang Selatan dan 108°26′ – 108°40′ Bujur Timur. Berdasarkan undang-undang nomor 27 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kota Banjar di Provinsi Jawa Barat kurang lebih 113,49 Km2 atau 11.349 Ha.
Daftar isi [sembunyikan]
1 Administratif
2 Lansekap
3 Citanduy
4 Ekonomi
5 Sejarah
6 Akomodasi/Pariwisata
7 Referensi
Administratif [sunting]

Gedung Setda Kota Banjar
Secara administratif, kota ini terdiri atas 4 kecamatan yaitu Banjar, Purwaharja, Pataruman, dan Langensari, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Banjar pernah menjadi kota kecamatan bagian dari Kabupaten Ciamis, kemudian ditingkatkan statusnya menjadi kota administratif. Sejak tanggal 1 Desember 2002, Banjar ditetapkan sebagai kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Ciamis.
Lansekap [sunting]

Kota Banjar memiliki lansekap yang beragam. Bagian utara, selatan dan barat kota merupakan wilayah berbukit-bukit. Kota ini dibelah oleh Citanduy di bagian tengah. Terdapat pula sebagian kawasan pertanian, terutama di bagian pinggiran kota.
Zona pertanian di Kota Banjar terdiri dari persawahan, perkebunan jati yang dikelola oleh Perhutani dan hutan hujan tropis biasa.
Pada tahun 2006, pembangunan balai kota baru dan markas Kepolisian Resort baru di Kecamatan Purwaharja mengharuskan pemotongan sejumlah bukit dan penggundulan hutan jati.
Citanduy [sunting]

Citanduy yang membelah Kota Banjar telah dibelokkan alirannya di Purwaharja dalam proyek Citanduy – Ciwulan. Proyek ini bertujuan untuk mengaliri sawah di daerah Langensari. Deposit pasir ditemukan di beberapa bagian sungai.
Ekonomi [sunting]

Salah satu indikator yang dapat dipakai untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah PDRB atau Produk Domestik Regional Bruto. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Banjar cukup signifikan yaitu 4,20 % pada tahun 2003 menjadi 4,40 % pada tahun 2004. Hal ini disebabkan oleh naiknya kembali perkembangan produksi yang menyumbang cukup besar bagi PDRB Kota Banjar. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Banjar dapat dilihat melalui indikator pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. PDRB Kota Banjar Atas Dasar Harga Konstan naik dari Rp. 538.477,50 juta pada tahun 2003 menjadi Rp.562.184,33 juta tahun 2004. PDRB perkapita Atas Dasar Harga Konstan naik Rp.3.343.293,27 pada tahun 2003 menjadi Rp. 3.454.897,19 pada tahun 2004.
Sejarah [sunting]

Alun-alun Banjar di tahun 1920-an
Banjar sebagai Ibukota Kecamatan, dari tahun 1937 sampai tahun 1940.
Banjar sebagai Ibukota Kewadanaan, dari tahun 1941 sampai dengan 1 Maret 1992
Banjar sebagai Kota Administratif dari tahun 1992 sampai dengan tanggal 20 Februari 2003.
Banjar sebagai Kota sejak tanggal 21 Februari 2003.
Akomodasi/Pariwisata [sunting]

Waterpark Kota Banjar
Pariwisata Kota Banjar sekarang bertambah dengan dibangunnya Waterpark dan Bendung Situ Leutik. Keberadaan dua objek wisata tersebut semakin menambah objek andalan pariwisata Kota Banjar. Waterpark yang berada di Parunglesang dilalui oleh lalu lintas Jalur Selatan Jawa. Baik itu Roda empat maupun Kereta Api.
Potensi Pariwisata Kota Banjar
Wisata Air
1. Objek Wisata Situ Mustika (Danau)
2. Objek Wisata Waterpark.
3. Objek Wisata Situ Leutik.
4. Objek Wisata Bataliyon 323 Raider.
Wisata Situs/Sejarah
1. Rawa Onom / Pulomajeti (Situs)
2. Kokoplak (Situs)
3. Terowongan Binangun
Wisata Kuliner
1. Jajanan Khas Sunda
2. Jajanan Seafood
3. Jajanan Oriental/Chinese food
4. jajanan citanduy,soto sewu
Sebagai penunjang sarana wisata terdapat juga jasa akomodasi berupa :
9 buah berupa hotel dan penginapan dengan kapasitas kamar 159 buah dan tempat tidur sebanyak 305 buah
1 buah Rest Area
Stasiun kereta api dengan Pemberhentian Kereta kelas Argo.
Terminal bus berdekatan dengan Objek Wisata Waterpark.citanduy

Carita Waruga Guru

Carita Waruga Guru
Asal Usul, Budaya, Cerita Rakyat

Ini carita Waruga Guru, eta nu nyakrawati. Nu poek angen tulus, ka kujaba dinu bodo, nu tarabuka priyayi sakarep kasorang tineung meunang guru.Ratu Pusaka di jagat paramodita, eta, kanyahoan Ratu galuh, keurna bijil ti alam gaib, nya Nabi Adam ti heula.

Ratu Galuh dienggonkeun sasaka alam dunya. Basana turun ti langit masuhur, turun ka langit jambalulah, turun ka langit mutiyara, turun ka langit purasani, turun kalangit inten, turun ka langit kancana, turun ka langit putih, turun ka langit ireng, turun ka langit dunya.

Ja kalangan, tata lawas turun ka Gunung Jabalkap. Upami ratu Galuh dienggonkan sasaka alam dunya, Nabi Adam ti heula, pinareking Gunung Mesir. Adam di seuweu opat puluh, dwa nu sakembaran, munijah luluhur haji dewi; cikal, da hiji dingarankeun nabi Isis, luluhur manusa.

Nabi Isa diseuweu Kaliyanggin. / Kaliyanggin diseuweu Malit. / Malit diseuweu Malam. / Malam diseuweu Mahur. / Mahur dseuweu Lamak./ Lamak diseuweu Nasar. / Nasar di seuweu basar. / Basar diseuweu nabi Enoh. / Nabi Enoh diseuweu istri, putri Betari Sanglinglang. / Betari Sanglinglang diseuweu Muladasadi. / Mulasadadi diseuwe Ratu babarbwana, arina karma Batari Logina. / Batari Logina diseuweu Gandulgantung.

Naha ari dingarankeun Ratu Gadulgantung ? / Karna tapa di awang-awang. / Arina karma Betari Cipta Langgeng, siseuweu nya Ratu Menengputih. Naha mana dingaranan Ratu Menengputih ? / Karna tapa dina haseup bijil putih./ Arina karma Betari Ciptawisena, arina diseuweu Ratu Gandul larang./ Naha ma dingaranakeun Gandullarang ? / Karna tapa dina bentang. Arina karma ka Betari Mekubuya / Betari Mekubuya arina diseuweu Ratu Okanglarang. / Naha mana dingarankeun Ratu Okanglarang ? / Karna tapa dina bulan. / Arina karma ka Betari Mekuhurip. Betari Mekuhurip arina diseuweu Ratu Siar./ Naha mana dingarankeun Ratu Siar ? / Karna tapa dina jero banyu.

Arina karma ka Betari Medangtasa. Arina diseweu Ratu Komara. / Ratu Komara arina karma ka Betari Lengisjati / Betari Lengisjati arina diseuweu Ratu Pucukputih./ Naha dingarankeun Ratu Pucukputih?Kerna tapa di jero langit putih nu leuwih. / Arina krama ka Betari Panggungkancana, arina diseuweu Baginda Premana.

Arina karma Maraja Lengjagat, arina diboga seuweu jumeneng ratu Tajapura Puterjagat./ Ditibanan ci banyu eluh / Diraga-raga ci banyu eluh. Kacarita Waruga Guru jumeneng nyakrawati, katurunan caya eluh, turun Gunung Rajanna, jumeneng ratu Rajanna.

****

Mangka Caritakeun deui Nabi Adam. Diogan sareyat. Lalampahan eukeur bingung, mitetekeun srangenge, hukumna sakur nu usik dihalalkeun, alamna lima riwu tahun, cengkal kayu ka patbelas ratus.

Kasalinan deui ku nabi Enoh, alamna dalapan ratus tahun, cengkal kayu salapan ratus cengkal panjangna, hukuna sakur nu paeh ku maneh diharamkeun, balana saeusina.

Kasalinan deui ku Nabi Isis, diboga kitab tanpa karana./ Caritakeun deui Ratu Rajaputra puterjagat.

Nabi Enoh mireungeuh Nagara Selong padagang dalapan./ Mangka nurut Baginda Premana sabalana kabeh. Ratu Rajaputra Puterjagat nu ranuhan hanteu milu, kudu-kudu karsa dahar babatang./ Mangka kahatur karamana./ Mangka bendu ramana. Eta oge rek dipupusan./ Maka dicekel ku Adam Daur./ Mangka kabireungeuh ku nyai aisna, ku ratu dewi Astra. Mangka dibelakeun jalma sewu./ Tuluyna ka kahiyangan./ Lawasna tapan di kamulyaan, turun ngababakan./ Medang Kamulan sangara, nuboga dayeuh dingaranan Ratu Bawana./ Mangka Diprangan ku Adam Daur, kasedek ngidul ka Pulo Panamor./ Mangka silih balang ku siwalan, turunna ka dayeuh, mana dingarankeun Bagelen.

Caritakeun deui putrana ratu Mesir na putri geulis Raminihalul, nu jung dina bulan Anggarkasih./ Unggalna ka papanggungan nengcengna patanggalan. / Rek dibeubeureungeuh ka tebeh kidul, behna pameget./ “Rampes, ta inya.”/ Tuluy hatir ka ramana, “Rama, kawula dek karma na ais bawa satapa.” /
Tuluy dibawa ku Darmasiksa. / Tuluy angkat deungna kai ais dijenengkeun Ahmad Musapir./ Tuluy ka nagara Medang Kamulan; kadaharanan Sri. / Mana aya Sri di Nusa Jawa : / Tuluy karma raka ka pada raka, rai ka pada rai. / Tuluy pinuh Medangkamulan, dieusi ku dua riwu./ Mangka karsa mindah dayeuh ka Gunung Kidul./ Mangka diwaris kuringna ku Darmasiksa, nu ti Mesir sakuringna ka gustina, nu ti selong sakuringna ka gustina./ Saur ratu, “Lalakina eta oge teu dbwaga waris, aya waris purba mana kuat ewe-ewena.”/ Mangka tuluy jadi nagara duwa kang raka deungeun kang rai.

***

Mangka caritakeun deui nabi Enoh./ Saurna nabi Adam, “Nabi Enoh, teu yacan dasri sri; reya duradu, kudu bogoh ka papad lalaki, karsa dahar babatang.” Saurna, “Nabi Adam, mugi–mugiya keuna bebendon deneng Allah.” / Mangkana pasti, dibawa unggah ka parahu Adam Nabi Enoh./ Dibawa unggah ka parahu, manga bijil angina topan sapocoro ti sagara, mangka keueum alam dunya./ Urang Nusa Jawa rame eukeur nyieun gunung.

Saur Ratu Prewatasari jagat, “pikakeueumeun.”/ Manghka nyipta gunung sasipat langit, dingaranan Gunung Adraksa./ Mangka urang nusa Jawa dibawa unggah gunung ku Ratu Prewatasari./ Mangka urang Nusa Jawa unggah ka Sanghiyang Puncak Linggapayu./ Mangka lawas-lawas orot deui./ Man anus saat ti heula bojong rencang carengcang betan kembang lopang, mana dingaranan Bojonglopang./ Tuluy diturunan di babakan ku Darmasiksa./ Turunna ka dayeuh, mana aya imbanagara, dijenengkeun Ki Sipati Panaekan masihna ratu leungit di gunung./ Mangka unggah pulo kancana kumambang-kumambang, ditalian ku hoe ku rokro, dicangcang keun ka gunung, dingaranan Nusa Kambangan./ Manga katurunan wahiyu.

Saur nu Wenang, “Geura tapa di sompoking panon poe, dinya pijadieun ratu.” / Meunang saur sakecap, tuluy angkat deui. / Saur Nu Wenang, “Jajaga ka loka gumilang na tapa manana aya sawarga loka.” / Mangka nerus bumi kahandap ka saragina.

Arina dibabar bawana, mana aya Bwanalarang. Tuluy tapa dinya. / Meunang saur sakecap, mangka angkat deui ka luhur. Bijil ti gunung, babar ti gasak, ti ngabulungbung jalanna, mana mana, dingaranan Pameungpeuk.

Tuluy tapa di Gunung Buligir putih, dibabar bawana, mana aya Bwanalamba./ Turun ka Gunung Dapang, murub muncar pakatonan di jagat paramodita, disujudan ku sajagat kabeh, salimahing bumi sakurebing langit./ Mangka bireungeuh ku Darmasiksa. / Tuluy diparanan ku Darmasiksa, jadi sastra duwa puluh./ Tuluy dibikeun ka dalem dayeuh./ Dihaturkeun deui ka putrana kabeh./ Mangka dibejakeun ka sabrang, ka nabi Enoh.

Saur Nabi Enoh, “Watek eta, Seh, lekab karagragan si banyu eluh, mana jumeneng Ratu Galuh. “Mangka Seh Majuso dudukuh di Masigit Wastu./ Maka Sang Ratu ngajenengkeun papatih opat anu natakeun sakabeh./ Dijenengkeun Adam Daur nu natakeun jalma kabeh ; dijenegkeun Dewa Guru nu natakeun di jero dayeuh, Darmasiksa na natakeun di karataon, Empu Ganjali./ Mangka urang Nusa Jawa pada sujud ka gunung anteg dijieun pamujaan./ Mangka katingalan ku malekat yen ruksak umatna kabeh, alamna sujud ka kayu ka batu. Mangka dipanah gugutuk batu./ Tuluy rempu paburantak, turunna, mana aya Kabuyutan./ Mangka sujud ka batullah.

***

Urang caritakeun deui aya nu tapa di Gunung Padang, yen kawasa, dingaranan Ajar Sukaresi.

Mangka hatur ka Sang Ratu yen kawasa. / Saurna Sang Ratu, “Ah, aing neang ka nu tapa.” / Mangke greuhana ditapokan mohana ku kancah./ Saur Sang ratu, “Patih, haturkeun ka nu tapa, Sang ratu bareuh mohana, kunaha ?

Tuluy ku Kai Patih haturkeun kanu nu tapa./ Haturna Kai Putih ka nu tapa, “Nuhun, kaula dipiwarang ku Sang ratu, sang Ratu beureuh mohana, kunaha ?” / Saur nu tapa, “eta oge eukeur bobot Sang Ratu.”/ Kai Putih tuluy pulang, hatur ka Sang ratu.

“Kumaha patih saur nu tapa?” / “Nuhun, Sang Ratu, “Bohong nu tapa, pagah kawasa.”/ Arina diteang kancah teu aya, Sang ratu ngandeg./ Datang ka bulanna, babar./ Dingaranan hariang Banga./ Lawas-lawas Sang ratu uwar ka sanagara yen sang ratu eukeur boga seuweu. / Saur Sang Ratu, “Patih, hatur ka nu tapa, Sang Ratu eukeur di boga deui seuweu.” / “Rampes,: carekna kai Patih./
Ari datang ka nu tapa tuluy hatur, carekna kai Patih, “Kaula nuhun, dipiwarang ku Sang Ratu.”/ Saur nu tapa, “Dipiwarang naha, Kai Patih ?’/ “Mangka Sang ratu bobot, naha ewe-ewe ta lalaki piseuweueunna na ?” / Saur nu tapa, “Reya deui Sang ratu nu tapa, Kai Patih haturkeun ka Sang Ratu, saur nu tapa piseuweunnana ewe-ewe.”/ Saur Sang Ratu, “Bohong nu tapa, eta oge kateh.”/ Arina diterang kateh teu aya./ Sang ratu tuluy ngandeg. / Ari lawas-lawas ka bulanna, tuluy babar Sang Ratu./ Arina dibireungeuh istri seuweu Sang Ratu./ Caritakeun deui reyana para putra./ Ratu Maraja lenggang seuweuna Ratu Ayub nu calik di Nusa Kambangan./ Arina patutan nya Hariyang Banga turunan Ajar, pulang jiwa nu ngasa di Sumade Kidul Balikna ka Majapait./ Patutan ti Ratu Prawata, eta seuweu Prebu Gunung, Sang Raja Panji.

Patutan deui ti Ratu Maraja Dewi Angin Ratu Pagedongan. / Ratu Maraja Dewi seuweuna Prebu Wiratmaka, Ratu Marajasakti./ Patutan ti Maraja Dewa Putra raba duwa welas nu nyarita tilu.

Mangka turun Ratu Komara ti swarga ngayuga dayeuh di Bojong Cimandala wateun reujeung Cigagakjalu.

Mangka gering sanagara Galuh./ Saur Sang Ratu, kaula rek hatur ka nu tapa, menta tamba gering.”/ Hatur Kai Patih, “Nuhun, kaula dipiwarang ku Sang Ratu, menta tamba gering sanagara?”/ “Kaula nuhun Sang Ratu, kaula rek hatur ka nu tapa, menta tamba gering sanagara,”/ Saur nu tapa, “Rampes.” / Mangka ngala sagala tamba. / Tuluy dihaturkeun ka Kai Patih, “iyeu tamba gering, haturkeun ka Sang Ratu, kami dek nuturkeun pandeuri.”/ “Kaula amit”./ Saur nu tapa, “Pileuleuyan, Kai Patih” / “kaula nuhun, Sang Ratu, ieu tamba gering sanagara tinu tapa.” / Tuluy di tampanan ku Sang Ratu./ Arina di buka, beh reundeu. / Tuluy di dahar ku Sang Ratu, nyat waras sanagara Galuh.

Tuluy ka seba deui ka para mantra./ Lila lila tuluy datang Kai Ajar./ Saur Sang Ratu, “Sukur temen Kai Ajar datang. Reundeu baan saha?” / Saur Kai Ajar, “Nuhun, ku kaula; lawas-lawas ari cukul, kahatur keun ka sampeyan.” / “Kai Ajar, ari kitu ngabakti keun sesa. “Mangka Sang Ratu bendu. Saur Sang Ratu, Patih paehan Kai Ajar.”/ Mangka di cekel ku Kai Patih, dibaan ka ranca Cibungur.

Saur Kai Ajar, “Kai Patih, haturkeun saur kami ka Sang Ratu, jajaga ari boga deui seuweu lalaki nya eta nu di paehan teh.”/ Tuluy di telasan. Ngalambangkeun beureum getihna di ranca Cibungur, mangka dingaranan Cibeureum.
Lawas-lawas Sang Ratu ngadeg. Datang ka bulanna, lahir, arina dibireungeuh lalaki./ Mangka diasupkeun kana kandaga kancana reujeung ending sahulu, duhung sapucuk. Tuluy dipalidkeun ka Cintaduy.

**
Caritakeun deui nini Berangantrang, Aki Berangantrang.
“Nini, hade temen impiyan aing, ngimpi kagugun turan manik kacaahan mirah” / “Aki, sugan saapan urang meunang kirim pianak-anakeun.”

Isuk-isuk los diteyang, ngagebur kandaga kancana nyorang ka saapan. Tuluy di bawa ku ninina./ Ari dibuka, behna murangkalih, endog disileung leumkeun, keris./ Tuluy diteundeunkeun murangkalih./ Tuluy dirorok, dipangninggurkeun./ Lawas-lawas datang ka tegus cangcut./ Mangka dibawa moyan ku na kai ayah.
Bwat ciung. / “Ayah, nahaeun eta?” / “Ngaranna ciung, anaking.” / Bot indungna, bwat bapana, bwat anakna. Pur hiber bapana. / “Ayah, ka mana eta arahna?” / “Piaraheunnana ka daleum dayeuh.”/ “Ah, ngaran aing Ciung Manarah.”/ Endog tuluy disileungleumkeun. Tuluy megar, dingaranan Singarat Taranjang.

Mangka rame di daleum dayeuh nu keur sawungan./ “Ayah, aing mah hayang ngadukeun hayam aing.”/ “Mulah, anaking, bisi eleh marang.”/ Mengkena murangkalih hayam tuluy dikelek, duhung tuluy disungkelang. Tuluy angkat, ditutur keun ku na ka ayah.
Datang ka Pagelaran, heran ningal urang pagelaran./ Katingali ku Patih Hariyang Banga, kahatur ka Sang Ratu./ Tuluy di saur ku jogan./ Saur Sang Ratu, “Ari eta seuweu saha?”/ “Kaula, nuhun anak kaula.”/ “Dipudut ku ngaing, Aki Belangantrang diperedikakeun sabawa kita”./ Tuluy mulang Aki Belangantrang bari nangis, melang ka kai seuweu.

Rek mireungeuh ka Sang Ratu, mireungeuh deui ka Patih Hariyang Banga, tuluy mireungeuh ka sarirana ku anjeun./ Lila-lila eling carita, hatur ka Sang Ratu, “Kaula anak andika.”/ Ngareungeuheun bangkeureuheun miresep hatur sakitu. Lila-lila tuluy eling, Sang Ratu dipundut sungkelangna duhung./ Ari dibireungeuh sungkelangna duhung, beh pun Naga Lumenggung./ Saur Sang Ratu, “Enmya hidep anaking.”/ Kahatur ka nyai ibuna./ Tuluy dirawu dipangku diceungceurikan.

Saur Ciung Manarah, “Rama Ibu, kaula neda waris.”/ Saur Sang Ratu, “Enggeus beyakeun ku na kai lanceuk, ku Patih Hariyang Banga.”/ “Aya soteh kari panday domas kurang hiji, eta waris aing ka hidep.”/ Tuluy disuhunkeun waris.
Sang Ratu tuluy dicalikkeun, dijajarkeun, deung na kai lanceuk, deung Patih hariyang Banga dituluykeunna, jengan Patih Ciung Manarah marentahkeun Nusa Tilu Puluh Tilu./ Alamna Ratu Galuh pitung ewu tahun.

Mangka Patih Ciung Manarah karasa nurunkeun panday domas kurang hiji rek nyieun beusi./ Kabireungeuh ku Sang ratu, panujueun./ Tuluy dihaturkeun nyieun deui bale beusi./ Kabireungeuh, panujuen dihaturkeun./ Arina nyieun deui konjara wesi./ Arina dibireungeuh ku Sang ratu, panujueun, dihaturkeun./ Saur Patih Ciung Manarah, “Henteu nyaho ta jerona, Rama”/ Tuluy dilebetkeun ku Sang ratu./ “Hade,” saur Sang Ratu./ Jeprak di kancing ku Patih Ciung Manarah, dijingjing ka paseban, diundangkeun ka sadadayeuh./ Teu dibere cai, teu dibere sangu, dikemitan ku para seuweu./ Lawas-lawas saurna Patih Ciung Manarah, “Sang Ratu lintuh lintuh keneh.”/ Horenganan dibalangan keupeul ku Patih Hariyang Banga./ Mangka bendu Patih Ciung Manara, mesat hateup sirap, dibalang kang raka./ Tuluy bendu ka sang raka./ Mangka konjara wesi rek diirik./ Ku Patih Ciung Manarah direbut./ Ku Ratu pagedongan tuluy disusupkeun ka Gunung Kelong.

Tuluy perang, mangka disedekkeun ngetan kang raka. Datang ka Balangbangan, saur kang raka, “Rayi, urang eureun.” / “Raka, rampes.” / Tuluy eureun teoheun maja, tugna bhwah kalayar./ Dicandak ku na kai lanceuk./ “Rayi, iyeu bwah naeun?”/ “Iyeu bwah maja, Raka.”/ “Ngeunah didahar ?”/ “Ngeunah, raka.”/ Arina didahar pait./ “Majapait iyeu pingaraneun nagara.”

Disedekkeun deui ngulon kang rayi ku kang raka./ Datang Tajigbarat, saur kang rai, “Raka, urang eureun.”/ “Rayi, rampes.” / Eureun teoheun paku tug bwahna. Dicandak ku na kai ais, “Raka, buah naeun iyeu?. “Bwah paku jajat.”/ “Pakwan Pajajaran ieu ngaran.” Mangka perang deui. Datang ka Taraban, mangka turun Darmasiksa./ “Nya prerang, anaking.” Cipamali nerus gunung, teka nunjang ka sagara halerang godong angsana, na kang raka di Candak ku kai mas dipidwah keun ngulon.
Tuluy dikumpukeun ka Nagara Galuh ku Darmasiksa./ Konjara wesi diparanan ku Ratu Maraja sakti, dicipta tuluy lebur jadi cai, turunna ka dayeuh, mana aya Kandangwesi.

Tuluy kumpul deui Nagara Galuh, pada marek ramana neda idin. Mangka matur kang rayi, “Rayi ulang jumeneng ratu ti heula,”/ Saur Kang Raka, “Suka aing jadi ratu ti heula, da aing kolotna anak putu, rayi ku aing dikawulakeun mo jumeneng nyakrawati lamun teu ngumbara heula”.
****
Patih Hariyang Banga karsa murud ngetan, maan kuringna satak sawe nitih Majapahit./ Puputra Prebu Mula./ Prebu Mula arina puputra Prebu Terusbawa./ Terusbawa puputra Terus Bagawat.
Terus Bagawat puputra Prebut Terus Gumuling./ Prebu Terus Gumuling puputra Prebu Mangoneng. Prebu Mangoneng puputra Prebu Terus Bangbang. Terus Bangbang puputra Ki Gedeng Mesir./ Ke Gedeng mesir puputra Ki Gedeng Jati./ Ki Gedeng Jati puputra Ratu Prewata./ Ratu Prewata puputra Ki Gedeng Mayana./ Ki Gedeng Mayana puputra istri, dingarankeun Ratu Sarikem./ Ari karma ka wong agung Batullah, dingaranakeun Seh Kures.

Kaselangna ku Ratu Pajang manyakit wawatuneun mejangan budak bule pitambaeun./ Nimu Ki Gedeng Selang, putri dianggo, manyakit warasna. Putri tuluy bobot./ Arina babar Ki Gedeng Kacung./ Ki Gedeng Kacung arina puputra Ki Gedeng Surawul. Ki Gedeng Surawul arina puputra Pangeran Sedang Karapay, puputra Sedang Kajenar./ Pangeran Sedang Kajenar puputra Pangeran Sedang Kamuning./ Pangeran sedang Kamuning puputra Sutan./ Sutan arina puputra Susunan./ Susunan arina puputra Susunan Mangkurat./ Susunan Mangkurat arina puputra Pangeran Mangkunegara, kang rayi susunan puger, puputra Pangeran Mangkunagara./ Pangerabn Mangkunagara puputra Pangeran Dipati.
Caritakeun deui Ciung Manarah, karsa rek murud ngulon./ Mangka maan kuring panday domas kurang hiji nitih lemah Pajajaran./ Arina krama ka ratu Endong Kencana./ Arina puputra Darma Rehe. Darma Rehe arina puputra Lutung Kasarung./ Lutung Kasarung arina puputra Prebu Lingga Hiyang./ Prebu Lingga Hiyang puputra Prebu Lingga Wesi./ Prebu Lingga Wesi arina puputra Prebu Lingga Wastu./ Prebu Lingga Wastu puputra Sang Susuk Tunggal./ Sang Susuk Tunggal arina puputra Prebu Mundingkawati./ Prebu Mundingkawati puputra Prebu Anggalarang./ Prebu Anggalarang puputra Prebu Siliwangi, jumeneng nyakrawati Pajajaran.

Ti Web **Pasulukan Loka Gandasasmita**
Dicetak : Akang Lii (Luly Hermawan permana)

Lambang/ Logo Buaya Putih

Lambang BUAYA PUTIH -    Lambang “BUAYA PUTIH“ diambil dari sifat-sifat positif Buaya secara umum, dan Hikayat seekor Buaya yang berjasa dalam hubungannya dengan riwayat Kerajaan GALUH PAKUAN dari inti sari teladannya untuk dijadikan LAMBANG Yonif 323/Buaya Putih sebagai pasukan INFANTERI PENGGEMPUR yang harus memiliki Keberanian, Kejujuran, Keuletan dan Kesucian Tekad sebagai pengikat Korps. -    Hikayat BUAYA PUTIH diambil Suri Teladannya karena jasa dan amalnya, sedangkan Riwayat GALUH PAKUAN diambil untuk meresapkan ikatan moril dengan rakyat setempat, dimana Pasukan Yonif 323/Buaya Putih berada. -    Adapun hubungan historis nama Batalyon Infanteri 323/Buaya Putih dengan Resimen Induknya yaitu GALUH GARA TENGAH pada waktu itu sebagai berikut : a.    VERSI PERTAMA. Syahdan dikala kira-kira tahun 400 Masehi, ada sebuah kerajaan bernama "GALUH" yang dipimpin seorang Raja bernama "PRABU SINDULA" yang mempunyai Putra bernama "PRABU DEWATA CENGKAR" pada suatu saat datanglah orang asing yang berusaha mengembangkan pengaruhnya dan berhasil. PRABU DEWATA CENGKAR tidak dapat menerima kehadirannya sekalipun dipaksa oleh sebab itu dia masuk/menerjunkan diri ke sungai dan menjadi "BUAYA PUTIH" dengan semboyan: “ LEBIH BAIK MENJADI PENGHUNI SUNGAI DARI PADA DIJAJAH“. b.    VERSI KEDUA. Di daerah Ciamis bertahta seorang RAJA GALUH PAKUAN yang beristri dua, yang satu permaisuri dan yang satu lagi Selir karena ambisi sang Selir untuk menjadi Permaisuri maka Putra Mahkota yang masih Bayi dicurinya dan dibuang ke sungai Citanduy, Sang bayi yang dibuang ditolong oleh seekor Buaya Putih dan diselamatkan ke darat sampai diketemukan oleh seseorang dan dirawat sehingga kelak menjadi RAJA GALUH PAKUAN menggantikan sang ayah, berkat pertolongan Buaya Putih yang pada hakekatnya dipercaya atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa. -    Berdasarkan Surat Keputusan Kasad Nomor Skep/489/IX/1987 tanggal 5 September 1987 tentang pengesahan penggunaan lambang Kesatuan Tingkat Tunggul dalam jajaran Kostrad dari lambang BUAYA PUTIH DAM VI/SILIWANGI diganti menjadi lambang BUAYA PUTIH KOSTRAD dan menggunakan TOP ROI-83. a.    Lambang "BUAYA PUTIH" warna dasar Biru tertera BUAYA PUTIH dilingkari Padi Kapas. b.    Sifat-sifat Buaya : -    Dapat hidup dalam berbagai kondisi baik di air maupun di darat. -    Sabar dan pendiam, tetapi ganas bila harus bertarung. -    Tahan  uji  dan  kuat  hati  dalam mencari dan menghancurkan musuh bangsa serta setia kepada teman. -    Taat  kepada  yang  tertua, jujur dan selalu bersedia dihukum bila ia bersalah. -    Mengutamakan  kawan  dalam  pergaulan  tidak  mau  dipengaruhi orang lain. Lambang Satuan. a.    Lambang Satuan    : Buaya Putih dalam keadaan menganga. b.    Tunggul Satuan    : Tunggul Buaya Putih. c.    Ukuran        : 65 CM/40 cm. d.    Warna            : Biru Putih. e.    Warna Buaya    : Putih. f.    Warna dasar        : Biru. g.    Tulisan        : Buaya Putih (di atasnya lukisan Buaya Putih). Arti dan Makna. a.    Gambar Buaya Putih dengan mulut terbuka melukiskan :                  -    Terampil.         -    Waspada.         -    Setia dan Taat.         -    Berbudi luhur dan tanpa pamrih.         -    Jujur dan teguh dalam kepribadian.         -    Pantang Menyerah.         -    Jaya sepanjang masa.          b.    Padi dan Kapas. -    Padi berjumlah 15 butir mencerminkan tanggal kelahiran tanggal 15. -    Bunga Kapas berjumlah 11 buah mencerminkan bulan kelahiran bulan November.          c.    Tulisan Buaya Putih    . Seekor Buaya berwarna putih merupakan jelmaan seorang tokoh yang sakti. d.    Warna.          -    Hijau       :    Subur.     -    Kuning     :    Jujur.     -    Putih       :    Suci.     -    Hitam      :    Setia.     -    Biru        :    Taat dan patuh. e.     Motto Satuan.      Adapun Motto Satuan adalah “MANGKALANA  DIGJAYANA” motto ini di dapat pada saat perubahan lambang satuan yang awalnya BHAYANGKARA menjadi BUAYA PUTIH. Motto ini diambil dari bunyi wangsit kelima dari Wangsit Buaya Putih yang terdiri dari 7 wangsit yaitu :           -    TITIH SURTI TEU IREUG TALINGEUH     -    WASPADA NGAJAGA BAYA     -    KUKUH PENGKUH SATYA NANJEURKEUN HUKUM     -    BUDHI BHAKTI TANPA PAMRIH     -    MANGKALANA DIGJAYANA     -    AJEG NGADEG SALAWASNA     -    TANPA ROBAH KU PANGARUH            Arti dari “MANGKALANA DIGJAYANA” tersebut yaitu “JAYA SEPANJANG MASA” adapun juga yang mengartikan bahwa apabila tampil maupun berada dimanapun akan selalu membawa kejayaan ataupun kesuksesan.

Lambang BUAYA PUTIH
- Lambang “BUAYA PUTIH“ diambil dari sifat-sifat positif Buaya secara umum, dan Hikayat seekor Buaya yang berjasa dalam hubungannya dengan riwayat Kerajaan GALUH PAKUAN dari inti sari teladannya untuk dijadikan LAMBANG Yonif 323/Buaya Putih sebagai pasukan INFANTERI PENGGEMPUR yang harus memiliki Keberanian, Kejujuran, Keuletan dan Kesucian Tekad sebagai pengikat Korps.
- Hikayat BUAYA PUTIH diambil Suri Teladannya karena jasa dan amalnya, sedangkan Riwayat GALUH PAKUAN diambil untuk meresapkan ikatan moril dengan rakyat setempat, dimana Pasukan Yonif 323/Buaya Putih berada.
- Adapun hubungan historis nama Batalyon Infanteri 323/Buaya Putih dengan Resimen Induknya yaitu GALUH GARA TENGAH pada waktu itu sebagai berikut :
a. VERSI PERTAMA. Syahdan dikala kira-kira tahun 400 Masehi, ada sebuah kerajaan bernama “GALUH” yang dipimpin seorang Raja bernama “PRABU SINDULA” yang mempunyai Putra bernama “PRABU DEWATA CENGKAR” pada suatu saat datanglah orang asing yang berusaha mengembangkan pengaruhnya dan berhasil. PRABU DEWATA CENGKAR tidak dapat menerima kehadirannya sekalipun dipaksa oleh sebab itu dia masuk/menerjunkan diri ke sungai dan menjadi “BUAYA PUTIH” dengan semboyan: “ LEBIH BAIK MENJADI PENGHUNI SUNGAI DARI PADA DIJAJAH“.
b. VERSI KEDUA. Di daerah Ciamis bertahta seorang RAJA GALUH PAKUAN yang beristri dua, yang satu permaisuri dan yang satu lagi Selir karena ambisi sang Selir untuk menjadi Permaisuri maka Putra Mahkota yang masih Bayi dicurinya dan dibuang ke sungai Citanduy, Sang bayi yang dibuang ditolong oleh seekor Buaya Putih dan diselamatkan ke darat sampai diketemukan oleh seseorang dan dirawat sehingga kelak menjadi RAJA GALUH PAKUAN menggantikan sang ayah, berkat pertolongan Buaya Putih yang pada hakekatnya dipercaya atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
- Berdasarkan Surat Keputusan Kasad Nomor Skep/489/IX/1987 tanggal 5 September 1987 tentang pengesahan penggunaan lambang Kesatuan Tingkat Tunggul dalam jajaran Kostrad dari lambang BUAYA PUTIH DAM VI/SILIWANGI diganti menjadi lambang BUAYA PUTIH KOSTRAD dan menggunakan TOP ROI-83.
a. Lambang “BUAYA PUTIH” warna dasar Biru tertera BUAYA PUTIH dilingkari Padi Kapas.
b. Sifat-sifat Buaya :
- Dapat hidup dalam berbagai kondisi baik di air maupun di darat.
- Sabar dan pendiam, tetapi ganas bila harus bertarung.
- Tahan uji dan kuat hati dalam mencari dan menghancurkan musuh bangsa serta setia kepada teman.
- Taat kepada yang tertua, jujur dan selalu bersedia dihukum bila ia bersalah.
- Mengutamakan kawan dalam pergaulan tidak mau dipengaruhi orang lain.
Lambang Satuan.
a. Lambang Satuan : Buaya Putih dalam keadaan menganga.
b. Tunggul Satuan : Tunggul Buaya Putih.
c. Ukuran : 65 CM/40 cm.
d. Warna : Biru Putih.
e. Warna Buaya : Putih.
f. Warna dasar : Biru.
g. Tulisan : Buaya Putih (di atasnya lukisan Buaya Putih).
Arti dan Makna.
a. Gambar Buaya Putih dengan mulut terbuka melukiskan :
- Terampil.
- Waspada.
- Setia dan Taat.
- Berbudi luhur dan tanpa pamrih.
- Jujur dan teguh dalam kepribadian.
- Pantang Menyerah.
- Jaya sepanjang masa.
b. Padi dan Kapas.
- Padi berjumlah 15 butir mencerminkan tanggal kelahiran tanggal 15.
- Bunga Kapas berjumlah 11 buah mencerminkan bulan kelahiran bulan November.
c. Tulisan Buaya Putih . Seekor Buaya berwarna putih merupakan jelmaan seorang tokoh yang sakti.
d. Warna.
- Hijau : Subur.
- Kuning : Jujur.
- Putih : Suci.
- Hitam : Setia.
- Biru : Taat dan patuh.
e. Motto Satuan.
Adapun Motto Satuan adalah “MANGKALANA DIGJAYANA” motto ini di dapat pada saat perubahan lambang satuan yang awalnya BHAYANGKARA menjadi BUAYA PUTIH. Motto ini diambil dari bunyi wangsit kelima dari Wangsit Buaya Putih yang terdiri dari 7 wangsit yaitu :
- TITIH SURTI TEU IREUG TALINGEUH
- WASPADA NGAJAGA BAYA
- KUKUH PENGKUH SATYA NANJEURKEUN HUKUM
- BUDHI BHAKTI TANPA PAMRIH
- MANGKALANA DIGJAYANA
- AJEG NGADEG SALAWASNA
- TANPA ROBAH KU PANGARUH
Arti dari “MANGKALANA DIGJAYANA” tersebut yaitu “JAYA SEPANJANG MASA” adapun juga yang mengartikan bahwa apabila tampil maupun berada dimanapun akan selalu membawa kejayaan ataupun kesuksesan.